Labels

Tampilkan postingan dengan label My Simply Notes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Simply Notes. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 September 2015

Masturbasi, dan Bagaimana Caranya untuk Berhenti (Bagian 2) End

       Pada bagian pertama saya sudah memaparkan beberapa solusi untuk mengatasi atau berhenti dari kebiasaan masturbasi. Dari beberapa solusi tersebut mungkin efektif, atau mungkin juga tidak. Kalau berdasarkan pengalaman saya sendiri, cara-cara yang saya paparkan tersebut adalah tidak efektif. Seberapa keras saya berusaha hasilnya akan tetap demikian. 

      Lalu tanpa disengaja saya disadarkan. Perlahan demi perlahan saya mulai memperoleh pengetahuan yang sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan hal mengatasi kebiasaan ini. Pengetahuan yang saya dapat tersebut dengan "Ketaqwaan". Hal ini berawal dari bulan puasa kemarin, tahun 2015 ini. Sudah menjadi pengetahuan umum seharusnya, bahwa puasa adalah cara yang mungkin paling efektif dalam meredam hawa hafsu, dalam hal ini nafsu seksual. Dalam sebulan tersebut, ibadah pun secara musiman juga meningkat. Sebenarnya hal ini sudah saya sadari sejak puasa-puasa tahun sebelum ini, namun saya hanya tidak bisa mempertahankan irama yang sudah baik di saat bulan puasa itu. Pada tahun-tahun sebelum tahun ini, saya biasanya kembali ke rutinitas sebelumnya, bilamana bulan puasa telah berakhir. Ibadah kembali menurun, hawa nafsu kembali tidak terkontrol. Namun segala puji bagi Allah SWT, kali ini tidak demikian. Ibadah (sholat 5 waktu), karena mungkin telah menjadi kebiasaan di bulan puasa dahulu, menjadi sulit untuk ditinggalkan. Satu dua hari memang tidak akan tampak efeknya. Coba jalani dengan tekun dan sabar, kadang paksakan diri. Tahu-tahu beberapa bulan telah berlalu dari bulan itu, dengan kebiasaan baru. 

      Bahkan mungkin baru satu bulan lebih, kebiasaan masturbasi itu sama sekali tak menarik lagi. Untuk melakukan hal-hal yang mengarah ke situ benar-benar menjadi pergolakan dalam pikiran, seakan ada sesuatu yang menolak dalam diri, seakan ada sepasukan imun dalam diri. Bayangkan saja, ini hanya terjadi setelah saya membiasakannya, dalam waktu singkat saja. Hasilnya sudah seperti ini saja, lalu bagaimana jika dilakukan sepanjang hidup? Meskipun ini terlalu cepat, namun saya dengan yakin dapat mengambil kesimpulan bahwa ini adalah cara satu-satunya untuk mengatasi kebiasaan masturbasi. Yaitu taqwa, melaksanakan apa-apa yang diperintahkan Tuhan, dan menjauhi larangannya. Benarlah bahwa sholat dapat menjauhkan diri dari perbuatan buruk. Benarlah pula, mata ini pun tak lagi ingin melihat hal-hal yang dapat memacing syahwat, barang sedikit pun. Ingat! Padahal ini saya lakukan baru-baru saja. Mata pun seakan ada seorang penjaga, membuat tidak enak memandang sesuatu yang tidak bermanfaat. Sekali pun hasrat itu muncul, paling tidak ada semacam penghadang, atau penyaring yang membuat kita berpikir ulang.

      Tak tahu bagaimana dengan yang disebut taqwa bagi non muslim. Bagi saya yang seorang muslim, dalam agama ini terdapat banyak sekali petunjuk dalam hal menjalani hidup. Hampir di setiap hal dalam hidup ini, dari yang paling sederhana dan absurd sekali pun, dari segi teknis maupun hakikat, ada kajiannya. Sedikit saja saya mempelajari, mengkaji, tentu saja dengan otak dan hati yang telah diciptakan ini, membuat saya semakin haus dengan pengetahuan, dengan petunjuk-petunjuk yang mungkin sederhana saja. 

      Demikian tulisan saya. Semoga kita yang laki-laki ini lebih menjadi orang yang berpikir, lebih bisa mengendalikan hawa nafsu kita. 

      

Minggu, 30 Agustus 2015

Sakit Dalam Keterasingan

      Keterasingan adalah keadaan dimana kita merasa berbeda dengan orang-orang di sekeliling kita. Keterasingan yang saya maksud di sini bukanlah hal yang meyangkut fisik atau hal yang kasat mata. Keterasingan di sini adalah berupa keadaan emosional seseorang oleh karena idealisme yang diambilnya. Sendiri dalam keramaian, juga kadang terpaksa mengikuti kebanyakan, atau berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum penuh kepalsuan. 

      Dalam hal pilihan hidup, jalan yang kita ambil, baik itu dalam hal agama, pendidikan maupun politik menjadi sangat riskan terhadap pandangan-pandangan orang lain. Kita memilih jalan yang sedikit saja berbeda bisa langsung dicap aneh, ekstrimis, fanatik, dan sebagainya. 

      Keadaan akan sedikit membaik jika kita menemukan teman seperjuangan, orang-orang yang memiliki visi yang sama dengan kita. Mereka ini adalah penyokong kita, orang-orang yang harus dihargai. Pilihan hidup yang membuat kita diasingkan kadang berasal dari orang-orang terdekat kita sendiri. Keluarga yang tak cukup pendidikan, jarang membaca, sering menonton TV. Habis sudah otak mereka, pikiran yang sudah dikendalikan oleh TV itu seperti ternak yang sudah dicolok hidungnya, tak bisa kemana lagi, harus patuh terhadap si pengembala. Sakit memang saat keluarga adalah hal yang diharapkan untuk menjadi pendukung pilihan yang kita ambil, malah menjadi pencibir. Tak usah sedih, walau sakit itu nyata sekali pun. Rasa sakit itu sementara, yakin saja. 

      Perlulah kita belajar sedikit dari sejarah para rasul. Nuh dengan istri dan anaknya yang tak mau mendengar, juga dengan Luth yang istrinya mengingkarinya. Semua akan berkesudahan dimana pilihan yang baik akan menang. Namun tentu saja baik atau buruk pilihan yang membuat kita menjadi terasing itu relatif. Terlepas dari benar atau salah, baik atau buruk, ada baiknya kita tetap berjuang, tetap berpegang teguh terhadap pilihan yang kita ambil. Pada akhirnya tentu saja akan terbukti, apakah perjuangan kita sia-sia atau tidak.
      
      Ada dua kemungkinan dengan kondisi yang kita alami. Kemungkinan pertama adalah kita kalah. Kita menyerah dengan keadaan, lalu ikut arus, menjadi orang lain. Kemungkinan kedua adalah kita tetap berada di jalan yang kita perjuangkan, jalan yang dianggap remeh oleh orang-orang itu, jalan yang fanatik itu. Apa pun pilihan yang kita ambil ada baik buruknya, namun  saya sendiri lebih menganjurkan pilihan yang kedua. Ada pepatah lama, merdeka atau mati.

      Kabar baik untuk mereka yang terasingkan. Mereka adalah orang-orang kuat. Lihat saja Galilei dengan keterasingannya dari gereja. Muhammad dengan keterasingannya dari penduduk Mekah. Tan Malaka yang dibuang kesana-kemari seakan tak ada habisnya dikucilkan. Ada pun mereka adalah orang-orang yang kuat. Keterasingan membuat seseorang kuat, bermental besi baja. Setimpal bukan? Maka janganlah kita bersedih hati.





Minggu, 19 Juli 2015

Dikepung Pesona Wanita

      Sebagai seorang laki-laki, aku sadar bahwa tantangan terbesarku dan kami adalah wanita. Mata adalah pintunya, memasukkan dosa sebanyak-banyaknya ke dalam hati. Anehnya aku sadar, kami sadar, tapi kami tetap tidak bisa berbuat apa-apa dengan keadaan ini. Wanita seolah-olah menjadi racun sekaligus penawarnya bagi kami. Sampai sekarang pun aku tetap belum menemukan mengapa hal ini menjadi suatu hal yang sangat lumrah bagi laki-laki, seakan naluri yang sudah ada sejak lahir. Aku tak tahu bagaimana sudut pandang mata wanita terhadap laki-laki, apakah mereka seperti kami juga jika mata mereka bertemu kami. 

      Mereka sebut ada tiga macam godaan bagi laki-laki, harta, tahta, dan wanita. Walaupun wanita memang menjadi godaan yang sangat luar biasa, namun tetap saja godaan uang lebih mengerikan, aku bisa bilang begini karena aku sudah pernah berhadapan dengannya. Kembali ke persoalan wanita, ada beberapa hal yang membuat mereka begitu memikat. Pertama dan yang pasti adalah fisik, tentu saja, bagi laki-laki godaan fisik wanita itu sangat bisa membuat darah kami berdesir, membuat mata menggelora, membuat hasrat memuncak. Pantas saja menjadikan wanita sebagai objek adalah hal yang bukan saja jenius, tapi juga seperti memberi makan macan dengan daging segar. Pengetahuan tentang ini sudah lama sekali ada, dari zaman Adam dengan Hawanya, Cleoparta, hingga Marylin Monroe. Tentu saja hal ini tidak dibenarkan agamaku, entah agama kalian. Tapi yang aku yakini adalah hal ini akan terus terjadi, hingga matahari terbit dari barat.

      Baru hingga semalam aku mendapat sebuah informasi. Informasi yang mengatakan secara tidak langsung kepada diriku bahwa ada wanita-wanita yang memikat dalam arti sebenarnya. Memikat mata sekaligus hati. Aku tidak memungkiri bahwa apa yang dilihat laki-laki dari seorang wanita pertama kali adalah fisik mereka, terutama wajah mereka, senyum menawan mereka, atau kulit mereka yang eksotis. Tidak bisa dipungkiri sama sekali, kupikir sebagian besar laki-laki di bumi ini akan setuju denganku. Tapi palingkanlah pandanganmu, itu lebih suci. Iya benar demikian, maka dari itu dibutuhkan daya tarik lain dari seorang wanita, seperti pancaran aura yang tidak biasa, yang bisa membuat mata buta, namun hati terbelalak.

      Seperti yang kuutarakan dalam tulisanku sebelumnya "Where You Are Thingking Youre Falling in Love Boys" bahwa saat laki-laki sedang jatuh cinta atau sekedar mengagumi seorang wanita, maka saat itu pula sang Laki-Laki sedang dibuat gila, dibuat seperti lemah sekali, seolah orang mabuk yang mudah saja dijatuhkan dengan satu pukulan. Pikiran-pikiran akan membayangkan terus-menerus sosok wanita tersebut. Panjang angan-angan ingin bersama, menikahi, dan sebagainya. Namun tentu saja reaksi atau proses ini ada batasnya. Biasanya waktu yang akan menghapus segala reaksi kimia ini. Bahkan reaksi ini bisa hilang sama sekali, atau berubah benci. Begitulah, mudah saja bagi sang Pencipta untuk membolak-balikkan hati manusia. Sabar juga mungkin bisa menjadi obat yang manjur. Saat rindu memuncak, ingin bertemu sekali, maka sabarlah yang menjadi pertahanan. Bila jodoh pasti akan bertemu, entah itu dalam kecelakaan, entah itu dalam perjuangan. Segera lamar, apa pun yang terjadi kadang tidak bisa terulang kembali. Bagi laki-laki mungkin tidak ada yang lebih membahagiakan melainkan lamarannya diterima oleh pujaan hati. Jantung yang berdegup kencang, ditambah badan yang keringat dingin, berbalas senyum bahagia oleh sang Wanita, maka legalah diri, bahagia.
     
      Ada mereka, wanita-wanita yang benar-benar diluar jangkauan kami laki-laki. Maka memang dianjurkan meminang seorang wanita yang selevel dengan kita. Setara dalam harta, pekerjaan, pendidikan, juga dalam hal pemikiran. Akan sulit sekali jika perbedaannya terlalu jauh, seperti seorang wanita dokter menikah dengan laki-laki yang hanya seorang satpam, atau seorang wanita soleha dengan laki-laki yang tidak tahu agama. Semua akan bisa menjadi jurang yang sangat dalam dan jauh memisahkan sang Wanita dan laki-lakinya. Keseringan dalam pengalaman, diri sendiri dan laki-laki di sekitarku adalah jatuh kepada wanita-wanita yang memang benar di luar jangkauan kami. Di luar jangkauan kami biasanya wanita-wanita itu adalah seorang cantik jelita, dikagumi banyak laki-laki, atau seorang soleha. Lebih parah jika wanita itu adalah seorang cantik jelita, pula soleha, maka ciutlah nyali. Aku berpikir bahwa aku yang hina ini tak akan bisa menjangkau mereka, namun itu bukan berarti aku tidak berani. Persetan, aku berani. Ada juga jika laki-laki dan wanitanya dipisahkan oleh tingkat keluarga yang tidak selevel, pendidikan, juga pekerjaan tadi. Sulit memang, sekali pun sang Wanita berkenan, namun tetap saja ada sesuatu yang mengganjal di hati (masa bodoh sebenarnya, hajar saja) lalu lihat bagaimana kelanjutannya, apakah kita sebagai yang kurang bisa mengatasi kekurangan kita, apakah kita sebagai laki-laki hanya akan tunduk pada kekurangan tadi, seharusnya kita harus membara, mengejar gap yang memisahkan (jika bisa).

      
      

      


Jumat, 29 Mei 2015

Pergesekan Atom Perbedaan

      Mengapa antar kelompok hampir selalu muncul pergesekan dan pertentangan? Tidak usah kelompok-kelompok besar seperti partai-partai, organisasi-organisasi besar, paham-paham radikal, atau aliran-aliran tertentu, kelompok pertemanan yang sederhana saja memiliki pergesekan yang kental sekali satu sama lain. Hal-hal apa saja yang menyebabkan hal ini terjadi? 
      
      Pernahkah kalian merasa aneh, atau merasa terkucilkan saat bersama dengan sekumpulan orang yang  berbeda dengan kalian. Mereka memiliki satu persamaan namun tidak dengan kalian. Mereka tidak menghiraukan kalian. Mereka hanya berbincang dengan mereka saja. Aku pernah mengalami ini. Sebagai satu orang yang berbeda di suatu perkumpulan orang-orang alim. Aku tidak dihiraukan, bahkan tidak disapa sama sekali. Alim macam apa ini pikirku? Mereka hanya memandang antara mereka saja. Mereka bahkan tidak melihat kearahku. Mereka tidak menyalamiku, padahal aku sudah tersenyum dan hendak mengulurkan tanganku. Hatiku menjadi sedikit sakit.

      Aku pernah berbincang dengan seorang teman. Dia adalah salah satu orang yang bisa dibilang juga mengalami pertentangan atau pergesekan ini. Pergesekan yang berbasiskan keegoisan paham atau kelompok. Dia berkata bahwa dia tidak bisa menerima jalan pikiran mereka/dia. Aku sebagai orang ketiga bisa melihat persoalan ini dari kedua sisi, dari sisi temanku, maupun dari sisi mereka/dia. Dia/mereka ini adalah seorang wanita, yang sedang berusaha dalam memperbaiki diri, dalam hal agama. Pergesekan itu timbul kurasa karena sudut pandang atau pola pikir yang berbeda. Kalau dari sisi temanku ini, dia melihat wanita itu sebagai mereka-mereka yang berlebihan dalam agama, maka selanjutnya muncul persepsi-persepsi, muncul penghakiman-penghakiman. Kurasa pergesekan ini juga tak lepas dari si wanita juga. Wanita itu dengan pemahaman baru seumur jagungnya tidak terlalu bisa mengendalikan hasratnya, emosinya. Maka oleh karena hasrat yang berlebihan itu pula muncul pertentangan atau pergesekan dengan temanku ini. Seperti kedua bilah pedang yang saling beradu, atau seperti arus pendek listrik yang dengan mudah memunculkan percik api. Mereka berdua bergesekan.

      Kalau jumlah anggota yang saling bergesekan itu seimbang atau paling tidak hampir sama, maka pergesekan itu tidak akan terlalu menimbulkan rasa sakit. Ini sebenarnya mirip perang. Kalau jumlah antar dua kubu yang saling bergesekan itu tidak seimbang, sepuluh berbanding satu misalnya, rasa sakit itu tidak akan terelakkan, seperti yang kuceritakan di awal tadi. 

      Coba kalian sedikit perhatikan! Dalam sebuah pernikahan saja sebetulnya sudah bisa diambil kesimpulan, bahwa orang dari kubu A, biasanya menikah dengan kubu A juga. Laki-laki dari perkumpulan orang alim menikah dengan wanita yang berasal dari perkumpulan orang alim juga. Ah, bisa-bisanya aku yang seperti ini berharap mendapatkan seorang istri dari perkumpulan orang alim. 
 
      Sedikit sekali dari mereka yang kurasa memiliki ketertarikan atau kemampuan untuk berbaur dengan orang-orang di luar kubu mereka. Mereka tidak peduli apa-apa yang berada di luar mereka. Kita akan menemukan hal ini di setiap perkumpulan atau kelompok, dari yang resmi maupun yang tidak resmi. Sebenarnya hal inilah yang akan menimbulkan fitnah untuk mereka sendiri. Fitnah yang dimunculkan dari mereka sendiri. Saat dihakami oleh orang lain, atau kelompok lain bahwa mereka seperti ini, atau seperti itu, mereka tidak terima. Mereka sering tidak berkaca, mungkin juga kita. Wajar saja padahal, kalau kita hanya bergaul dengan kita saja. Kita hanya melihat dari satu sudut pandang saja. 
 
      Maka dari itu, seorang pemimpin berbagai golongan harus memiliki sifat yang mau dan sanggup membaur, namun tetap tidak meninggalkan jati dirinya yang utuh. Seorang yang bisa melihat dari berbagai sudut pandang. Seseorang yang tidak egois dengan pemahaman atau pemikirannya saja.







Senin, 18 Mei 2015

Escaping Procrastination, Cara Mengatasi Penundaan



Kamu mencari solusi untuk penundaanmu disini? Sayang sekali kamu tak akan menemukannya.  

Stop reading this and do that thing!

.

.

.

.
.
.
.

.

Oh dear, kamu masih membaca ini juga ....

Kamis, 30 April 2015

Sedikit Usaha untuk Hidup


      Seringkali, atau mungkin kadangkala, kita meresa tertekan, kita meresa sedih, kita merasa depresi akan hidup kita. Perasaan seperti tidak memiliki tujuan, tidak memiliki mimpi. Perasaan semacam ini bisa jadi kita sadari sepenuhnya, namun bisa juga tidak kita sadari sama sekali. Perasaan yang bisa membunuh hidupmu, hidup kita, bahkan tanpa kita sadari. Akupun begitu, kadangkala aku merasa kosong, kau tahu, hampa, ya, perasaan semacam itu. Perasaan yang bisa membunuhmu, peruntunganmu, dan seluruh hidupmu.

      Hidup memang begitu ya, tidak seperti detak jantung yang stabil. Hidup lebih seperti irama yang tidak beraturan. Irama hidup di suatu waktu bisa jadi sangat indah, mengalun dengan merdu, seperti nada-nada tinggi suara trumpet. Hidup juga pada suatu waktu bisa sangat datar, tak ada bunyi sama sekali, kosong, sepi.

      Sejujurnya aku tak begitu tahu apakah hidup yang bergelombang ataukah yang datar yang lebih baik. Ada orang-orang yang memiliki hidup yang datar-datar saja, namun mereka terlihat bahagia, sekali lagi cuma terlihat. Ada juga orang-orang yang memiliki hidup yang ramai, dan mereka juga terlihat bahagia, sekali lagi cuma terlihat.

      Mempunyai mimpi memanglah hal yang luar biasa, sungguh luar biasa, namun tidak semua orang memiliki mimpi. Benarkan? Lebih realistis jika dikatakan bahkan sebagian besar manusia dimuka bumi ini adalah orang-orang yang tidak memiliki mimpi. Mereka yang hidup biasa-biasa saja. Mereka yang bekerja untuk makan, untuk hidup. Mereka yang lahir, tumbuh, sekolah, cinta, menikah, memiliki anak, lalu mati. Mereka yang hanya butuh hidup yang berkecukupan. Kebanyakan seperti itu bukan? Lalu bagaimana bagi mereka selain orang-orang itu? Mereka, atau mungkin kita yang termasuk golongan itu, para pimimpi, para pemikir, yang tidak bisa hidup dengan cara konvensional semacam itu.

    Ada beberapa cara yang ku pelajari dari beberapa buku untuk mereka, kita yang termasuk golongan ini.

      Jika kita tidak memiliki mimpi, atau mungkin bahkan sebuah tujuan, dalam hidup, maka kecilkan ukurannya, coba kita pikirkan hal-hal apa saja yang kita sukai, bahkan hal kecil sekalipun sangat berharga. Hal-hal itu bisa kuberi contoh seperti membaca, menonton televisi, mendengarkan musik, atau bahkan memainkannya, keluar nongkrong bersama teman, atau apa saja. Temukan itu. Tandai! Lalu lakukan lebih sering, hal-hal itu, yang kau sukai. Sangat mengesankan jika hal-hal yang kau sukai merupakan hal-hal yang lebih bernilai, dalam artian lebih bermanfaat, seperti menulis, menggambar, bermusik, traveling, dan hal-hal semacam itu, seperti yang kulakukan sekarang ini, menulis, adalah hal yang kusukai, lakukan lebih sering, sesering mungkin.

      Kita bisa membedakan hal-hal yang kita sukai dengan yang biasa-biasa saja, atau dengan yang tidak kita sukai dengan sangat mudah. Kita hanya bisa merasakannya. Ada desir dalam aliran darah kita saat kita bahkan baru membayangkan hal yang kita sukai tersebut. Ada suatu kesenangan dalam melakukannya, tanpa beban sedikitpun, tanpa paksaan sedikitpun. Rasa lelah setelah melakukan hal-hal yang kita sukai tersebut tak lebih dari romantisme yang sedikit pahit. Lakukan hal-hal seperti ini sesering mungkin. Perlahan singkirkan hal-hal biasa yang kita lakukan, atau bahkan hal-hal yang tidak kita sukai. Perlahan saja. Hal ini memang tidak langsung mengena pada hal-hal yang lebih spesifik, namun paling tidak, melakukan hal-hal seperti itu dapat membuka jalan bagi sesuatu yang lebih besar.

      Aku bisa menulis seperti ini, namun jika ada suatu pertanyaan, bagaimana jika hal yang tidak kita sukai tersebut adalah suatu kewajiban. Seorang ayah yang menghasilkan uang dari pekerjaan yang tidak disukainya demi keluarganya. Seorang siswa yang harus menyelesaikan kuliah yang bahkan dia tidak mengerti sama sekali. Bahkan mungkin, seorang wanita yang menikahi laki-laki yang tidak dicintainya karena keterpaksaan. Bagaimana?

      Ada dua cara, terserah kalian mau memilih yang mana. Cara yang pertama adalah menerima. Pernahkan kita melihat mereka-mereka yang hidupnya berupa rutinitas yang tidak terlihat mengasikkan. Bekerja sebagai buruh misalnya, melakukan sesuatu yang sama setiap hari, seperti robot, namun herannya kalian tetap bisa menyaksikan senyuman indah dari bibir mereka, kalian masih bisa mendengar canda tawa mereka. Itulah menerima. Ikhlas. Syukur. Itulah cara yang pertama.

      Cara yang kedua adalah berontak, hijrah. Berontak adalah suatu keputusan yang sangat sulit. Berhenti dari pekerjaan yang telah dilakukan puluhan tahun misalnya, atau memutuskan bercerai dari pasangan yang telah dinikahi bertahun-tahun dalam ketidakbahagiaan, atau berhenti kuliah untuk melakukan hal yang lain, atau tanpa alasan apapun. Berontak memang hal yang sulit, namun hasil yang akan diperoleh setelahnya bisa jadi sangat setimpal. Perlukah kuberikan contoh orang-orang terkenal dalam hal ini? Kurasa tidak perlu. Kalian sudah tahu siapa-siapa saja mereka.

... tsuzuku.




Senin, 13 April 2015

THE MECHANISM


      First thing to say, this is not originally my idea. These are accumulating of what read, and my personal thought. You can find anything similiar in somekind of books. I just want to rewrite it in my own way. This kind of knowledge are well known in psychological world.

1. MIND

      Mind is the main character of this mechanism. Mind is the core. Mind is the machine. Mind is the epicentrum. Mind affects universe. Universe does everything what mind told. In this unlimited universe, they work for your mind. The universe can be good and can be bad. It depends on your mind. Universe is just like double edge sword, and you are the Knight. 

      Mind is considered of two part. First is conscious mind, and the other is the unconscious mind. The unconscious mind affects the conscious one. We cannot control the unconscious one. It is naturaly moved, changed, transformed by physical being. This mind is very powerful, just like somekind of power which is uncontrolled and lies beyond. This is the thing you can call "sleeping lion" of your mind. This is the main power/energy that affect, command, and control the universe.

2. heart

      I am not really sure that heart has a symbiosis with mind. But sometime heart can be related with unconscious mind. Heart is feeling. Heart is emotional being. Although me either dont know what organ of our body where heart is. Is it near the heart (literaly)? though I think most of people think that there is the heart dwelling. Is it heart a spritual being? We often listen to what people said,"listen to your heart!" and maybe heart is love or maybe heart is hate.

3. Universe

      Universe is a power. Universe is undefineable. Universe is unseen, but there it is like a ghost. Universe is a tool. How does universe work is still a mystery. Sometime things is just happen, and you are wondering how. Let me share an experience. This was happen years ago and this pretty simple. Somehow i wished for a cellphone, which was at that time a cellphone using is not as common as now. I couldnt afford somekind of that stuff at that time. Some of my friend already had it. I just wondered that i will have it, this was happening and repeating in my mind (conscious one). I drove my bike going to home from my school. It was a shiny day. While driving my bike, that imaginary came to my mind. Its unwilling. Maybe. When i came home, i was surprised that there it is. There is a pack of cellphone on the table. Somehow i was told thats for me. Its so coincident i thought that time but now, i know that was not a coincident.

4. Physical being

      Phycical being is that "cellphone". Its a manifestation of MIND. The Universe is the machine. Physical being is not just a dead thing, but it also an affecting thing. This is somekind of power too if your MIND losed by. Your MIND must be stronger than physical being, much stronger. Physical being is a weapon that used by them, the masterMINDs. Here is an exsample. Do you know that words (psysical being) can really affect MIND? I think you know. When peoples around you talking bad to you. Your parents always humiliates you, about your grades at school. Your neighbourhood gossiping behind you. It always makes your mind affected. If your mind is weak, you can be easily turn in to sorrowness. You can be easily mad, and at the end it turns around again the mechanism affecting the psysical being. Your life is screwed.

      There are some people, or maybe a few that has a strong MIND. Stronger than psysical being. They are somekind of mad people (mentioned by society). A person who has strong MIND can noticed them. You know, strong MIND attracks strong MIND too. They are the pioneers of this world. The declarator of war, peace and freedom. You may know some name of them. Their mind cannot be affected by pysical being (words, pysical condition, poorness, money, etc). They have their own way althought they are looked down by society. They are the masterMIND.






Minggu, 22 Maret 2015

SUKSES?

       Apa itu sukses? Pertanyaan ini selalu menjadi sebuah topik hangat, baik dari kalangan muda maupun tua. Aku pun masih dalam pencarian dari arti pertanyaan ini. Lalu nanti apakah aku akan mendapatkannya atau tidak aku tak tahu. Mungkin jawaban yang akan ku peroleh akan berbeda dengan kalian. Kurasa besar sekali kemungkinan bahwa setiap orang akan menemukan jawaban yang berbeda. So ... dari hal tersebut sebenarnya kita sudah dapat menyimpulkan bahwa tak ada jawaban yang statis dari sukses itu, juga tak ada jawaban yang pasti.

      Jika sukses adalah mempunyai uang yang banyak, dalam ukuran kita orang Indonesia mungkin sekitar milyaran uang yang tak habis buat belanja keperluan, uang yang bisa dipakai untuk bermewah-mewahan, uang yang bisa dipakai untuk pengobatan, maka aku tak inginkan itu, rasanya bukan seperti aku sok atau apa, namun saja uang tak cukup untuk membuatku tergila-gila pada mereka. Biasanya uang dan jabatan/kekuasaan selalu berbanding lurus. Banyak uang bisa jadi mempermudah memperoleh kekuasaan, dan sebaliknya, maka apakah aku juga tertarik dengan kekuasaan? Mungkin iya sih, sedikit. Mempunyai kekuasaan bisa jadi membuat kita disegani dan dihormati, walaupun itu bisa saja hanya sebuah topeng dari mereka. Mempunyai kekuasaan juga bisa menjadi alat untuk mencapai tujuan-tujuan kita yang sebenarnya, ah, mungkin uang juga. Jika dipikir-pikir lagi, uang dan kekuasaan itu seharusnya hanyalah sebuah alat, bukan tujuan. Alat untuk mencapai tujuan-tujuan kita yang lebih aneh, lebih absurd, lebih memiliki rasa, lebih ke rohani, mungkin sesuatu-sesuatu yang tidak bisa dilihat, ataupun didengar.

      Seringkali kita mendengar atau membaca, bahwa untuk mencapai sebuah kesuksesan kita harus keluar dari zona nyaman kita. Kubertanya, apakah salah berada dalam zona nyaman?

      Aku memiliki seorang sahabat yang sudah lama ku kenal. Dia selalu terlihat bahagia di mataku. Dia selalu merasa nyaman terhadap hidupnya. Dia selalu merasa tak perlu berubah. Aku pun terkadang merasa iri dengannya. Lalu apakah inti dari ini? Kupikir orang-orang yang merasa nyaman dengan hidup yang mereka jalani adalah orang-orang yang sukses. Sahabatku itu dimata orang-orang lain, kecuali ibunya, adalah orang yang tertutup, orang yang tidak mau bergaul terhadap dunia yang penuh sesak dengan senyum kebohongan Seringkali orang-orang mencemoohnya, mencibirnya, namun kulihat bahwa dia tak mau ambil pusing. Dia selalu tersenyum dengan jalan yang diambilnya, cara-caranya menikmati hidup sangat sukar dinilai sebagai sebuah kesuksesan. Ah apakah itu kesuksesan pikirku? Kadang-kadang aku pergi menjumpainya dirumahnya. Tidak pernah sekalipun saat aku mengobrol dengannya terucap kalimat-kalimat mengeluh, ataupun kalimat-kalimat iri terhadap kehidupan orang lain, ataupun kalimat-kalimat sombong akan pencapaian, kepemilikan harta benda, dsb. Semuanya hanya kesederhanaan dalam berpikir dan hidup. Ada pada suatu malam, aku berkata kepadanya,"Kira-kira bagaimana ya rupa langit di kota-kota besar?" lalu dia menjawab, "Tak usahlah ke kota-kota besar, lebih baik di kampung halaman sendiri, tenang dan nyaman". Lalu aku berpikir. Ada benarnya juga. Buat apa mencari kebahagiaan yang sebenarnya sudah kita miliki. Namun begitu, tetap saja aku ingin melihat seperti apa langit malam dikota-kota besar pikirku saat itu.

      Sukses tak bisa dilepaskan dengan bahagia. Bahagia adalah sukses bagi diri sendiri, entah dimata orang lain. Sukses bisa jadi hanya apa-apa yang terlihat oleh orang lain, sementara diri sendiri, hati nurani berkata bahwa kita tak bahagia. Jangan kau kira mereka-mereka yang berbaju parlente, bermobil bagus, dengan kesibukan yang terlihat berkelas, adalah orang-orang yang sejatinya bahagia. Kebanyakan orang-orang yang seperti ini yang kukenal, ada beberapa, mereka memang memiliki uang, dan kekuasaan, namun apa yang kulihat dari mereka hanyalah kekosongan, entahlah, mungkin karena mereka memiliki hutang yang melebihi kekayaan mereka sehingga begitu getirnya mengejar uang. Hutang yang melebihi kekayaan mereka? Iya, bahkan bisa jadi kita atau mereka-mereka yang hidup biasa-biasa saja saat ini lebih kaya dari mereka. Tapi setiap hal selalu ada sisi baik dan buruknya. Banyak hal yang dapat kita ambil pelajarannya dari mereka-mereka, kaum borjuis, baik yang kita kenal secara langsung maupun tidak. Mereka memiliki power, tak bisa kupungkiri hal itu. Walaupun power itu hanya bersifat satu sisi, atau seperti diktator, atau apa, namun tetap saja itu sesuatu yang bisa membuatku kagum. Bagaimana mereka memiliki kharisma yang luar biasa, hal-hal semacam selalu itu membuatku kagum. Tidak semua dari mereka-mereka (kapitalis) hanya mementingkan uang. Ada juga mereka yang memperhatikan keluarga mereka, mereka yang masih bisa meluangkan waktu untuk berbagi rasa, mencoba berbahagia. Mungkin ini yang dinamakan keseimbangan. Namun ada pula yang tidak, yang sepanjang waktunya dihabiskan dengan bekerja, mengejar uang, berusaha melunasi hutang mungkin, tak ada lagi waktu menjawab permintaan-permintaan kecil si anak. Namun terlepas dari uang yang mereka cari yang entah berapa targetnya, saat tubuh sakit, saat penyakit menggerogoti mereka, atau orang-orang yang berharga mereka miliki, semua uang tersebut akan sangat mudah mereka habiskan, bahkan mungkin tidak akan cukup, untuk mengembalikan kesehatan yang pernah mereka miliki. 1 : 1. Semua uang yang dikumpulkan hilang dalam sekejap, bahkan mungkin kembali berhutang. Cukup satu saja padahal yang direnggut. Oh lalu apa gunanya mengejar uang selama ini?

      Bagi mereka kaum borjuis, para pemilik modal, kesuksesan adalah uang dan kekuasaan. Namun bagi kaum proletar hingga kaum menengah, pekerjaan yang bagus adalah kesuksesan. Sekolah yang tinggi adalah untuk pekerjaan yang bagus. Kira-kira begitulah mindsetnya. Aku juga seringkali diceramahi oleh ibuku, "sampai kapan kamu mau sekolah, sudah bertahun-tahun tak selesai-selesai, lihat si-anu dan si-anu, mereka sudah bekerja disini dan disini, sebagai ini dan sebagai ini, cepatlah lulus, nanti kalau ada penerimaan PNS ikut." lalu aku hanya bisa diam. Aku tak berani menjawab. Bukan karena apa-apa. Cukuplah alasan untuk diam karena dia adalah ibuku. Ah sederhana sekali pemikiran orang tua ku ini. Tak apa. Kurasa pendapatnya tadi mencerminkan pendapat orang-orang Indonesia pada umumnya, setidaknya sudah menjadi pengetahuan umum bahwa menjadi PNS adalah pekerjaan favorit. Sungguh jika pemimpin negeri ini tahu, sebenarnya masyarakat Indonesia ini tidak muluk-muluk dalam hidup. Mereka hanya ingin hidup tenang. Kebutuhan dasar bisa diperoleh dengan sedikit usaha. Bisa berobat dengan mudah saat sakit.

      Selain tipe-tipe kesuksesan di atas, kesuksesan bagi kaum kapitalis, proletar dan menengah, ada satu jenis tipe kesuksesan yang menurutku tipe paling orisinal, tak terdefinisi, tak berstandar, dan bebas. Orang-orang yang mengubah dunia. Orang-orang yang ditampilkan dalam buku "100 orang yang paling berpengaruh dalam sejarah" karya Michael Hart. Itulah mereka. Sebagian dari mereka adalah para penemu, para spiritualis, para seniman, para pemikir dan sebagian lain adalah pendobrak dan para pemimpin yang tak terhapuskan dalam sejarah. Sebagai contoh dari satu hal yang kusukai. Musik. Maka kalian akan menemukan Beethoven, Basch. Beethoven dengan tulinya dimasa keemasan bermusiknya, dan Basch yang karyanya tidak dihargai sebelum dia minggat dari dunia ini (juga mirip kisah pelukis yang terkenal itu, Van Gogh). Kita juga bisa menemukan para pemimpin dunia sepeti Hitler. Apa kau bilang? Bisa-bisanya kau menyebut nama itu. Yah memang terlepas dari kebencian dunia terhadap dirinya, tetap saja dia adalah sosok yang tak bisa dilupakan, bahkan mungkin diam-diam sampai sekarang pun masih ada pemujanya. Berawal dari sosok yang biasa-biasa saja, bisa-bisa orang ini mencanangkan sebuah keagungan ras terhadap dunia. Dan dia hampir berhasil. Lalu apa hubungan mereka-mereka ini dengan masa sekarang. Apa hubungan mereka dengan diri kita? Apa hubungan mereka dengan kesuksesan yang kusebutkan tadi? Kesuksesan yang orisinil. Mereka-mereka ini, mungkin hampir mirip dengan sahabatku yang kusebutkan di awal-awal tulisan ini. Mereka adalah orang-orang yang tak terpengaruh dengan uang dan kekuasaan. Iya, sebagian dari mereka-mereka memang adalah seorang pemimpin yang tentu saja memiliki kekuasaan, namun kekuasaan yang mereka miliki bukanlah sebuah tujuan, melainkan hanya alat. Sebagian dari kita sekarang, kekuasaan selalu dikaitakan dengan uang. Lihat saja pemimpin-pemimpin (baca: penguasa) Indonesia ini yang getol akan korupsi. Apalagi kalau bukan uang. Kekuasaan yang bagi mereka adalah untuk uang, dan bagi para kapitalis yang haus akan kekuasaan, uang menjadi alat untuk merebut kekuasaan. Sudah banyak terjadi sekarang. Tak adakah yang menggunakan alat-alat itu untuk hal lain. Hal yang lebih gila. Seperti Hitler, Genghis Khan, N. Bonaparte, dengan usaha-usaha mereka menaklukkan dunia. Oh mereka luar biasa sekali. Atau mungkin saja Muhammad, mahluk terbaik itu, satu-satunya manusia yang sukses dalam hal politik (kekuasan) juga dalam hal spiritual. Bagi kita, yang dalam pemikiran masih tak jauh beda dengan masyarakat kebanyakan. Dengan orang tua kita. Hidup bercukupan adalah kebahagian. Pekerjaan yang bagus, dll.
      Kurasa selain dari kesuksesan yang sifatnya biasa, atau umum, kita juga harus memiliki kesuksesan versi kita sendiri yang gila, yang keluar dari mindset orang banyak Kesuksesan yang diam-diam kita simpan dalam-dalam. Walaupun hanya berupa berpijaknya kaki di tanah mimpi. Atau menjadi pencipta mimpi bagi orang lain. Penulis musik. Penemu. Apa saja, yang penting keluar dari hal yang berbau uang dan kekuasaan. Sukses kita sendiri, tak peduli orang lain.






Minggu, 29 Juni 2014

When youre thinking youre falling in love (boys)...



      When you are thinking you arre falling in love (boys)...
      Tentu saja tulisan ini adalah sebuah tulisan dari sudut pandang laki-laki, pria, atau sejenisnyalah. Termasuk dalam pengalaman dari si penulis sendiri tentunya. Langsung saja. Bagi laki-laki seperti kami, jatuh cinta itu sangat istimewa. Bitter sweet. Yah, semacam itulah. Ketika kami merasa jatuh cinta, kira-kira beginilah hal-hal yang akan terjadi.

1. Chemistry 

      Reaksi kimia. Inilah yang membuat hal ini, yang disebut jatuh cinta, menjadi rasa seperti manis dan pahit. Bitter sweet. Atau sweet bitter. Ada rasa bahagia bersamaan dengan rasa sakit. Sedikit. Rasa bahagia yang besar, dan rasa sakit yang kecil. Atau bisa saja sebaliknya, rasa sakit yang besar, dan rasa sakit yang kecil. Biasanya muncul saat bertemu pandang. Aduhai. Perasaan semacam inilah yang disebut pria rasa bahagia yang menusuk. Sakit saat melihat dia bersama pria lain. Sakit bila kita hanya bisa memandangnya dari kejauhan. Anehnya, ya anehnya, kami, atau kita sebagai pria, aku yakin ini, bahwa kami senantiasa senang memunculkan perasaan ini, kala berjumpa dengannya. Perasaan ini sangat menggoda kami, bahkan kadang dipaksakan. Bodoh bukan. Begitulah kami, perasaan ini, reaksi kimia ini, selalu kami senangi, sebagai pemuda tentunya. Namun, lambat laun kita akan menyadari apakah reaksi kimia ini adalah sebuah hal yang benar-benar berarti atau bukan. Apakah reaksi kimia ini adalah sebuah landasan yang benar-benar sejati dalam apa yang mereka sebut cinta itu. Karena apa? Karena reaksi kimia ini bersifat sementara. Sementara cinta menuntut sebaliknya bukan.

2. Stalking

      Stalking. Membuntuti. Mengikuti. Mencari tahu. Kepo, adalah hal wajib bagi kami laki-laki yang sedang jatuh cinta. Apalagi dengan masa dimana informasi dengan sangat mudah bisa didapatkan, kami tinggal menggunakan mesin pencari yang sangat diagungkan itu. Internet. Dibandingkan dengan kisah cinta masa lalu yang penuh misteri, yang bahkan untuk mengorek suatu informasi dari sang pujaan membutuhkan kerja keras, membutuhkan ribuan meter untuk mengetahui dimana dia berhuni, membutuhkan keberanian menanyakan apakah dia sudah menikah, janda, ataupun sendiri, juga tentunya membutuhkan uang untuk alat pelicin infomasi yang ingin, sangat, berhasrat untuk kita ketahui. Ah, semua itu melelahkan sekali. Coba bandingkan dengan sekarang. Cuma duduk didepan, atau cuma mengangkat ponsel plus koneksi internet, semua bisa didapatkan, dengan sangat, sangat mudah. Apalagi mereka yang sudah terbiasa dengan men-stalking idola-idola mereka, tokoh-tokoh yang mereka kagumi. Mereka yang bahkan berada dalam masa hidup yang berbeda. Wanita-wanita yang kami kagumi lewat layar televisi maupun layar PC. Semuanya. Zenbu. Dari tanggal mereka lahir. Dimana mereka tinggal. Nama lengkap mereka. Hobi. Perjalanan karir mereka, bahkan sampai mengoleksi foto-foto mereka. Ah, semua ini benar-benar terjadi pada kami.

      Kembali kepada si pujaan hati. Kemampuan men-stalking kita akan terbukti bila tiba-tiba tanpa kita sadari, kita bisa langsung tahu jadwal si dia. Ah, si dia hari ini kuliah, ah, si dia hari ini pasti datang. Tanpa kita sadari juga tiba-tiba kita jadi hapal pakaian-pakaian yang biasa dia kenakan, bahkan sampai aksesoris-aksesorisnya. Ah, parah. Parah. Parah. Ah, mau bagaimana lagi, beginilah laki-laki bila sedang jatuh cinta. Tapi, akan tetapi, saat pria, laki-laki memahami sebenarnya hakikat dari perasaan itu sendiri, rahasia itu, semua misteri tentangnya, tentang pujaan hati. Semua informasi itu adalah sebuah harta yang sangat berharga. Sejatinya kita tidak usah, tidak perlu tahu itu semua. Benar. Pada saat yang sudah lepas. Saat dimana kita bersanding dengannya, kita bisa dengan mudah menanyakan langsung kepadanya, kepada pujaan hati kita. Alangkah tidak bergunanya semua informasi itu bila kita tidak berakhir bersamping dengannya. Lebih penting adalah, bahwa sebuah misteri tentangnya akan menambah rasa penasaran kita, akan membuat kita bersabar lebih keras, akan indah bila saatnya dia sendiri yang memberitahukan segala rahasianya kepada kita, segala rahasia yang bahkan orang tuanya, yang bahkan sahabatnya sendiri tidak ketahui. Ah, kami pun, lambat laun akan menyadari hal ini. Kami, laki-laki.

3. Youre being Fucked (actually)

      Kita. Kalian. Sebagai laki-laki, sebenarnya sedang dipermainkan oleh wanita, oleh perempuan. Saat dimana laki-laki sedang jatuh cinta, maka pikiran dan segenap emosi yang tadi bercampur baur dengan rasa ingin tahu yang amat sangat, membuat pikiran kita, membuat apa-apa yang muncul dalam benak hanya itu-itu saja. Ah. Bodohkah? Kita sadar, atau kalian mungkin sadar, bahwa hal ini bodoh sekali, atau hal ini sedang membodohi kalian, kita. Namun dikarenakan chemistry dan emosi yang kuat tadi, maka akal dan pikiran menjadi tak terkendali sama sekali. Youre being fucked. Youre being fucked whole day. Apakah kita tidak kasihan dengan diri kita sendiri? Pikiran-pikiran tentang khayalan-khayalan yang indah pun seketika terlintas dan terpikirkan, sepanjang, dan sepanjang waktu. Khayalan-khayalan tersebut bisa berupa bersama, bergandengan, berpelukan, berciuman, bahkan, dan bahkan, menikah, berumah tangga.

      Dalam hal ini, jika kalian dan kita mengalami hal ini, aku tak bisa terlalu memaksa kalian untuk berhenti. Aku juga juga pernah merasakan hal yang sama, tapi yang pasti, hal ini bersifat sementara, yakinlah padaku. Tidak akan lama saat kau akan bahkan secara tiba-tiba segalanya berubah menjadi normal, biasa dan kembali menjadi seperti semula. Yah, ini hanya sebuah permainan pikiran dan emosi yang sementara. Seperti tahap atau proses menuju pemahaman yang sebenarnya tentang cinta dan atau bahkan tentang hidup ini. 
***
      Ingatlah ketiga tanda-tanda diatas. Tanda-tanda bahwa kau sedang jatuh cinta, tanda-tanda bahwa youre being fucked. Dan ingatlah pula saat kau, saat kalian melupakannya, saat ketiga hal diatas hilang, bahwa saat itulah sebenarnya kita sudah melewati salah satu tahap dalam masa hidup atau masa muda kita, tentu, dengan perasaan yang ikhlas pula, dengan senyum di wajah kita.

DJPKTN BLOG WRITING COMPETITION 2016